Rencana Penggalian Kuburan Massal Korban Revolusi Sosial Tahun 1946 Ditunda

MITRAKITANEWS.COM, Asahan – Penggalian kuburan massal korban Revolusi Sosial Tahun 1946 yang direncanakan dilakukan Jumat (30/03/2018), ditunda sampai waktu yang belum diketahui.

Ketua Panitia Indra Syah, menjelaskan kendala yang terjadi karena Pemerintah Kabupaten Asahan belum memberi izin penggalian di titik lokasi Afdeling VI PTPN III kebun Sei Dadap Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan.

“Saat ini kami pihak Panitia untuk Daerah Asahan masih mengupayakan kelengkapan administrasi baik dari Pemkab mau pun PTPN III,” kata Indra Syah, Rabu (28/03/2018).

Sebelumnya undangan dan jadwal kegiatan mengenai penggalian dan pemakaman kembali korban Revolusi Sosial 1946 Kesultanan Asahan di Sumur Simpang Empat, Asahan, ke Mesjid Raya Sultan Achmadsyah Tanjungbalai tersebar.

Di lokasi terlihat sejumlah karyawan perkebunan PTPN III menutup akses menuju titik penggalian dengan alasan menunggu perintah pimpinan.

Untuk diketahui, kuburan diduga korban Revolusi Sosial 1946 di kawasan Afdeling VI PTPN III, akan digali Tim Lembaga Budaya Melayu Tuah Deli dan Kesultanan Asahan. Rencananya, penggalian mulai dilaksanakan Kamis (29/03/2018), dan dimakamkan kembali di komplek Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah kota Tanjungbalai sehari kemudian. Penggalian ini merupakan inisiatif dari keturunan para korban revolusi sosial 1946.

“Guna mengungkap kebenaran dan menggali sejarah bahwa pernah terjadi pembantaian besar-besaran di Sumatera Timur atau sering disebut revolusi sosial,” kata Indra Syah.

Indra menyebutkan, proses penggalian akan berlangsung tiga hari mulai dari pembersihan lokasi, persiapan penggalian, pembacaan doa dan ritual adat penggalian, penggalian dan pemberangkatan jenazah ke Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah, di Tanjungbalai. Selanjutnya pelaksanaan fardhu kifayah (sholat jenazah), takziah keluarga dan kerabat, pemakaman kembali di komplek Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah, dan terakhir doa.

“Direncanakannya kegiatan kita lakukan tidak terlepas dari keinginan keturunan para korban yang ingin orang tua mereka dimakamkan secara syariat Islam melalui fardhu kifayah,” ujar Indra Syah. (SM)

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: