Polisi Tangkap Pria di Labuhanbatu yang Viral Karena Suruh Anak Balitanya Merokok

MITRAKITANEWS.COM | Labuhanbatu – Polres Labuhanbatu menangkap SM (28) seorang ayah yang tega memaksa anak balitanya merokok. Aksinya itu lalu viral setelah ibu korban memposting gambar tangkapan layar video perlakuan sang suami terhadap anaknya ke sosial media.

“Kejadian pada hari Rabu tanggal 18 Agustus 2021 sekira pukul 20.30 WIB dimana saat itu pelapor NH (isteri pelaku) mendapat WA dari suaminya dan mereka melakukan panggilan video. Disana pelaku memberikan satu batang rokok yang belum menyala kepada anaknya,” kata Kapolres Labuhanbatu, AKBP Deni Kurniawan, dalam pemaparannya kepada wartawan, Kamis (26/8/2021).

Kemudian, lanjut Deni tersangka lalu menghidupkan rokok yang diberinya kepada sang anak dengan menggunakan mancis sambil berkata ‘hisap nak’ kemudian korban menghisap rokok tersebut lalu korban langsung batuk dan tersangka mengambil rokok tersebut dari korban, setelah itu karena pelapor tidak tahan melihat perlakuan terhadap anaknya, NH sempat menangkap foto di video tersebut lalu mematikan teleponnya.

“Pada hari Selasa tanggal 24 Agustus 2021 sekira pukul 16.00 WIB pelapor memposting hasil foto screenshot di facebook milik pelapor lalu viral,” lanjut Deni.

Polres Labuhanbatu yang mendapatkan laporan atas peristiwa tersebut melalui unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) langsung melakukan penyelidikan dan mengamankan pelaku di sekitar rumahnya, di Pulo Hopur Desa Siumajang Kecamatan NA IX-X Kabupaten Labuhanbatu Utara pada tanggal 25 Agustus 2021 pukul 20.30 WIB.

Ironisnya, anak kandung yang dipaksa oleh pelaku merokok tersebut usianya kurang dari dua tahun, sehingga hal ini mendapat kecaman dari berbagai masyarakat.

Selain perintah mengisap rokok, sebelumnya SM mengirimi NH sebuah video yang berisi intimidasi terhadap korban. Hal ini dilakukan SM sebagai upaya meminta NH bersedia rujuk kembali.

BACA JUGA
1 dari 8

Menurut Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu AKP Parikhesit, pasangan ini telah resmi bercerai sejak 3 Agustus 2021. Berikutnya pada 24 Agustus 2021, pengadilan agama kemudian membuat putusan terkait hak asuh anak.

“Berdasarkan putusan PA hak asuh anak ada pada ibunya. Namun saat ibunya ingin mengambil anaknya selalu dihalangi-halangi tersangka,” kata Parikhesit.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat dengan Pasal 89 (2) sub-Pasal 77B UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak atau Pasal 45 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Lingkup Rumah tangga.

“Ancaman maksimalnya 10 tahun,” kata Parikhesit.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Labuhanbatu Indrawati Sinaga mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait lain untuk memberikan konseling kepada korban. Tujuannya menghilangkan trauma agar korban bisa tumbuh dan berkembang dengan ceria. (Dodi Gultom)

Berita Terkait
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: